Jumat, 17 Apr 2026
  • SDIT Nur Fikri Batam Pendidikan Berbasis Pondok Pesantren Terbaik Di Kota Batam
  • SDIT Nur Fikri Batam Pendidikan Berbasis Pondok Pesantren Terbaik Di Kota Batam

KONSTRUKSI GLOBAL DAN GLOCAL MENUJU FORMASI INTERCULTURAL DALAM INOVASI KURIKULUM DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN PAI

DI SUSUN OLEH

RUDI IRAWAN,S.Pd    

1. PENDAHULUAN

Hai sobat! Bisa bayangin nggak ya, sekarang kita hidup di dunia yang semakin terhubung – dari sana ke sini cuma butuh beberapa klik doang! Nah, hal ini juga ngaruh banget ke dunia pendidikan, lho, termasuk Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Kita kan nggak bisa cuma fokus ke apa yang ada di sekitar kita aja, tapi juga harus bisa nyambung sama perkembangan di seluruh dunia. Tapi inget juga ya, kita nggak boleh lupa sama nilai-nilai lokal dan budaya kita sendiri!

Inilah yang disebut dengan konsep global dan glocal – ya, gabungan antara global dan lokal deh. Tujuannya adalah buat ngasih pembelajaran PAI yang nggak hanya bisa bersaing di tingkat dunia, tapi juga tetap punya ciri khas dan nilai-nilai kita sendiri. Selain itu, kita juga perlu ngebentuk generasi yang bisa hidup rukun sama orang dari berbagai latar belakang budaya dan agama – ini yang disebut intercultural atau pemahaman antar budaya.

Makalah ini bakal kita bicarain dengan gaya yang lebih santai tapi tetap jelas, ya! Kita bakal mulai dari pengertian dasar tentang apa itu konstruksi global, glocal, dan formasi intercultural. Terus kita cari dasar-dasarnya dari Al-Qur’an dan Hadits, juga liat apa kata para ulama tentang hal ini. Di akhir kita bakal simpulin semua yang kita bahas biar bisa jadi pedoman buat inovasi kurikulum PAI yang lebih keren dan sesuai zaman!

2. PEMBAHASAN

DEFINISI

A. Konstruksi Global

Konstruksi global bisa kita artikan sebagai cara berpikir dan bekerja yang memperhitungkan perkembangan, nilai-nilai, dan tantangan yang ada di seluruh dunia. Di dunia pendidikan PAI, ini berarti kita nggak cuma ngajarin apa yang sudah ada di buku lama aja, tapi juga ngikutin perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan isu-isu global kayak perdamaian dunia, lingkungan hidup, dan hak asasi manusia – tapi tetap dengan landasan ajaran Islam, ya!

Misalnya aja, sekarang banyak negara yang peduli sama perubahan iklim. Nah, di pembelajaran PAI kita bisa ngajarin tentang pentingnya menjaga alam semesta sebagai nikmat Allah, yang selaras dengan gerakan global untuk melindungi bumi kita.

B. Konstruksi Glocal

Glocal itu kan gabungan dari global dan local. Jadi artinya kita bisa mengambil yang terbaik dari perkembangan global, tapi disesuaikan dengan kondisi lokal, budaya, dan nilai-nilai kita sendiri. Di pembelajaran PAI, ini berarti kita bisa mengadopsi metode pembelajaran modern dari luar negeri, tapi kontennya tetap menggunakan contoh-contoh dari budaya Indonesia dan nilai-nilai Islam yang sudah melekat di masyarakat kita.

Contohnya, kita bisa pake teknologi seperti aplikasi pembelajaran atau video sebagai media ajar (itu yang global), tapi materi yang kita ajarin bisa tentang bagaimana ajaran Islam diwujudkan dalam tradisi silaturahmi atau gotong royong yang jadi ciri khas kita (itu yang lokal).

C. Formasi Intercultural

Formasi intercultural atau pembentukan kemampuan antar budaya berarti kita ngasih bekal buat siswa agar bisa hidup, berkomunikasi, dan bekerja sama dengan orang-orang dari berbagai latar belakang budaya, agama, dan negara dengan baik. Di pembelajaran PAI, ini bukan berarti kita mengajarkan agama lain, tapi lebih ke mengajarkan tentang pentingnya menghargai perbedaan, menjaga perdamaian, dan menemukan titik temu antara ajaran Islam dengan nilai-nilai universal yang diterima secara luas di dunia.

Misalnya, kita bisa ngajarin tentang bagaimana ajaran Islam mengajarkan tentang kejujuran, keadilan, dan kasih sayang – nilai-nilai yang juga dijunjung tinggi oleh banyak budaya dan agama lain di dunia. Dengan begitu, siswa bisa lebih mudah bersosialisasi dan bekerja sama dengan orang lain.

D. Inovasi Kurikulum dan Implementasinya dalam Pembelajaran PAI

Inovasi kurikulum berarti kita melakukan perbaikan atau perubahan baru pada kurikulum PAI agar lebih sesuai dengan kebutuhan zaman dan tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Implementasinya ya gimana cara kita menerapkan kurikulum yang sudah diinovasi itu di kelas sehari-hari – mulai dari metode pembelajaran, media yang dipake, sampai dengan cara mengevaluasi hasil belajar siswa.

DALIL AL-QUR’AN

Walaupun istilahnya baru dan modern, tapi prinsip-prinsipnya sudah ada di Al-Qur’an lho! Yuk kita liat beberapa ayatnya:

1. QS. Al-Hujurat [49]: 13

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Ini tuh ayat yang sangat terkenal nih! Jelas banget ngomongin pentingnya menghargai perbedaan suku, bangsa, dan budaya – yang jadi dasar dari formasi intercultural. Selain itu, juga ngajarin bahwa yang penting bukan dari mana kita atau agama apa kita, tapi seberapa baik kita menjalankan ajaran agama kita.

2. QS. An-Nahl [16]: 90

“Sesungguhnya Allah menyuruh kepada keadilan dan kepada berlaku baik dan memberi kepada kerabat, dan Dia melarang dari perbuatan keji dan perbuatan yang tidak sesuai dan permusuhan. Yang demikian itu adalah supaya kamu mengingat (ajaran-Nya), hai orang-orang yang berakal.”

Ayat ini ngajarin nilai-nilai universal kayak keadilan dan kesopanan, yang bisa kita terapkan dalam konteks global tapi tetap sesuai dengan nilai-nilai lokal kita. Ini jadi dasar buat kurikulum PAI yang bisa menyentuh isu-isu global tapi tetap berakar pada ajaran Islam.

3. QS. Ar-Rum [30]: 22

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT menciptakan perbedaan tapi juga kasih sayang yang bisa menyatukan kita. Ini jadi dasar buat kita mengembangkan kurikulum PAI yang bisa menghubungkan antara nilai-nilai lokal kita dengan nilai-nilai global tentang cinta damai dan persatuan.

4. QS. Al-Baqarah [2]: 256

“Tidak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Maka barangsiapa yang mengingkari Thagut dan menyembah Allah, maka sungguh ia telah berpegang kepada tali yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ayat ini ngajarin tentang toleransi dan kebebasan beragama, yang sangat penting dalam kehidupan global yang penuh perbedaan. Di pembelajaran PAI, ini bisa kita ajarkan agar siswa bisa menghargai pilihan agama dan keyakinan orang lain.

5. QS. Al-Ma’idah [5]: 3

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah hukum-hukum Allah sebagai hukum yang tetap pada dirimu ketika kamu mengadili di antara kamu dengan perkara yang berselisih. Janganlah kamu menyimpang dari apa yang telah diturunkan kepadamu dan janganlah kamu berpihak (kepada seseorang). Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Ayat ini ngajarin tentang pentingnya keadilan yang berlaku universal, tapi bisa kita terapkan dalam konteks lokal kita. Ini jadi dasar buat kurikulum PAI yang bisa mengajarkan tentang bagaimana menerapkan keadilan Islam dalam menghadapi tantangan global dan lokal.

DALIL HADITS

Tidak kalah pentingnya, Rasulullah SAW juga sudah memberikan contoh dan pedoman tentang hal ini lho! Yuk kita liat beberapa Haditsnya:

1. Hadis tentang Menghargai Perbedaan

“Sesungguhnya kalian semua bersaudara. Tidak ada seorang Arab yang lebih unggul dari pada non-Arab, tidak pula non-Arab yang lebih unggul dari pada Arab; tidak ada orang kulit putih yang lebih unggul dari pada orang kulit hitam, tidak pula orang kulit hitam yang lebih unggul dari pada orang kulit putih, kecuali karena ketakwaan.” (Riwayat Ahmad dan At-Tirmidzi)

Hadis ini jelas banget ngajarin kita tentang kesetaraan dan pentingnya menghargai perbedaan latar belakang – yang jadi dasar dari formasi intercultural dan konstruksi global yang inklusif.

2. Hadis tentang Bergaul dengan Orang Lain

“Jadikanlah dirimu mudah (didekati), janganlah kamu membuat dirimu sulit (didekati). Berilah kabar gembira, janganlah kamu menyebarkan kebencian.” (Riwayat Muslim)

Ini jadi pedoman buat kita dalam berinteraksi dengan orang dari berbagai budaya dan latar belakang. Di pembelajaran PAI, kita bisa ajarin siswa untuk jadi orang yang ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja.

3. Hadis tentang Menuntut Ilmu

“Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat. Dan tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina.” (Riwayat Ibnu Majah)

Hadis ini ngajarin kita untuk tidak takut belajar dari mana saja, termasuk dari negara lain atau budaya lain – yang jadi dasar dari konstruksi global. Kita bisa mengambil yang terbaik dari perkembangan ilmu pengetahuan global tapi tetap sesuai dengan ajaran Islam.

4. Hadis tentang Kerja Sama

“Barangsiapa yang membantu seorang muslim dalam kesusahannya, Allah akan membantu dia dalam kesusahannya. Barangsiapa yang menyederhanakan urusan seorang muslim yang kesusahan, Allah akan menyederhanakan urusannya di dunia dan akhirat.” (Riwayat Muslim)

Ini ngajarin tentang pentingnya kerja sama dan saling membantu, yang bisa kita terapkan baik dalam konteks lokal maupun global. Di pembelajaran PAI, kita bisa ajarin siswa untuk aktif berkontribusi dalam kegiatan sosial baik di lingkungan sekitar maupun dalam gerakan kemasyarakatan global.

5. Hadis tentang Akhlak yang Baik

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (Riwayat Muslim)

Akhlak yang mulia itu nilai universal yang dihargai di mana saja di dunia. Jadi, dalam inovasi kurikulum PAI, kita bisa fokus pada pembentukan akhlak yang baik sebagai dasar agar siswa bisa hidup rukun di tengah masyarakat yang beragam.

PANDANGAN ULAMA

Nah, sekarang kita liat apa kata para ulama tentang hal ini. Mereka juga punya pandangan yang sangat menarik lho!

1. Imam Al-Ghazali

Siapa yang nggak kenal Imam Al-Ghazali? Dalam bukunya Ihya’ Ulumuddin, beliau ngajarin bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya ada di dalam agama saja, tapi juga ada di luar sana yang bisa kita pelajari. Menurut beliau, kita boleh belajar dari ilmu pengetahuan dan budaya lain selama tidak menyimpang dari ajaran Islam. Ini jadi dasar bagi kita untuk mengembangkan kurikulum PAI yang mengintegrasikan nilai-nilai global dengan ajaran Islam lokal kita.

2. Imam Nawawi

Imam Nawawi yang terkenal dengan Riyadhus Shalihin ini menekankan pentingnya bersikap baik dan menghargai orang lain tanpa memandang latar belakang mereka. Beliau bilang bahwa seorang muslim harus bisa hidup rukun dengan semua orang, termasuk mereka yang berbeda agama atau budaya. Ini sangat sesuai dengan tujuan formasi intercultural yang kita mau capai.

3. KH. Hasyim Asy’ari

Pendiri Nahdlatul Ulama ini sangat mengutamakan pentingnya menyatukan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal Indonesia. Menurut beliau, ajaran Islam tidak harus bertentangan dengan budaya kita, tapi justru bisa saling melengkapi. Misalnya, tradisi gotong royong kita bisa dihubungkan dengan ajaran Islam tentang kerja sama dan tolong menolong. Ini jadi dasar dari konstruksi glocal dalam kurikulum PAI.

4. KH. Ahmad Dahlan

Pendiri Muhammadiyah ini dikenal sebagai sosok yang progresif dan terbuka terhadap perkembangan zaman. Beliau mengajarkan bahwa kita harus mau belajar dari perkembangan global tapi tetap menjaga prinsip-prinsip Islam yang benar. Dia juga sering bilang bahwa pendidikan harus bisa menjawab tantangan zaman dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Ini jadi inspirasi buat kita dalam melakukan inovasi kurikulum PAI.

5. Prof. Dr. Quraish Shihab

Ulama kontemporer yang kita kenal ini menjelaskan bahwa ajaran Islam sebenarnya sangat relevan dengan isu-isu global saat ini. Misalnya, tentang lingkungan hidup, hak asasi manusia, dan perdamaian dunia – semua itu sudah ada dalam ajaran Islam. Menurut beliau, kurikulum PAI harus bisa menghubungkan antara ajaran Islam dengan isu-isu tersebut agar siswa bisa menjadi agen perubahan yang positif di dunia global tapi tetap berakar pada nilai-nilai lokal kita.

3. KESIMPULAN

Konstruksi global dan glocal itu bukanlah hal yang baru atau bertentangan dengan ajaran Islam, tapi justru bisa kita terapkan dalam inovasi kurikulum PAI untuk menghasilkan pembelajaran yang lebih relevan dengan zaman. Tujuan akhirnya adalah buat ngebentuk generasi muda yang punya pemahaman antar budaya (intercultural), bisa bersaing di tingkat global tapi tetap mencintai budaya dan nilai-nilai lokal sendiri.

Dasar dari semua ini jelas banget ada di Al-Qur’an dan Hadits, yang selalu mengajarkan tentang pentingnya menghargai perbedaan, belajar dari yang terbaik, dan hidup rukun dengan semua orang. Pandangan para ulama juga memperkuat bahwa kita bisa mengambil yang terbaik dari perkembangan global tapi tetap disesuaikan dengan kondisi lokal dan ajaran Islam yang kita anut.

Dengan melakukan inovasi kurikulum PAI yang mengintegrasikan konsep global, glocal, dan formasi intercultural, kita bisa menghasilkan siswa yang tidak hanya pandai dalam ilmu agama, tapi juga cerdas dalam menghadapi tantangan dunia modern, bisa hidup rukun dengan orang lain, dan menjadi contoh yang baik bagi banyak orang. Semoga aja kita bisa terus berkembang dan membuat pembelajaran PAI menjadi lebih menarik dan bermanfaat ya!

4. DAFTAR PUSTAKA

1. Al-Ghazali, Imam. (2005). Ihya’ Ulumuddin (Jilid 3). Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

2. Nawawi, Imam. (2010). Riyadhus Shalihin (Terjemahan Indonesia). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

3. Quraish Shihab, Prof. Dr. KH. (2021). Islam dan Perkembangan Global. Jakarta: Lentera Hati.

4. Muzadi, Prof. Dr. KH. (2020). Pendidikan Islam dalam Konteks Global dan Lokal. Surabaya: Penerbit NU Press.

5. Dahlan, Ahmad. (2015). Kumpulan Nasihat dan Pidato KH. Ahmad Dahlan. Yogyakarta: Penerbit Muhammadiyah.

6. Supriyanto, Edy. (2022). Inovasi Kurikulum PAI untuk Era Globalisasi. Yogyakarta: Penerbit Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

7. Hidayat, Abdul. (2021). Pembelajaran Interkultural dalam Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Penerbit Kencana Prenada Media Group.

8. Tim Penulis Direktorat Pendidikan Islam Kementerian Agama RI. (2022). Kurikulum PAI Berbasis Global dan Lokal. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Agama RI.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Info Sekolah

SDIT Nur Fikri Batam

NPSN 70051134
Jln. RAYA MARINA DEPAN PERUMAHAN ANGKASA MARINA
TELEPON +62813-6413-7315
EMAIL [email protected]
WHATSAPP +6281364137315